Pohon dengan kamen corak hitam putih

bw03

Bli,, kenapa pohon pohon besar itu diselimuti kain hitam putih,,? Trus kenapa disembahyangi,,? Trus kenapa dikasi sesajen,,? Apa ada penunggunya ya,,?

Beberapa pertanyaan seperti itu terucap dari beberapa kolega penulis saat kami bepergian ke beberapa daerah di Bali. Awalnya sekedar menjawab:,, ya emang kayak begitu dah,,, ada penunggunya kali,,, dan sesekali penulis-pun memberi jawaban karena pohonnya sudah berumur dan jadinya disakralkan,, heleh kelihatan banget odong nya,,,

Tergerak dari hal tersebut, penulis pun mencari apa alasan mengapa pohon besar tersebut di pakaikan selimut (disaputin) kain bercorak hitam putih.

Kembali ke dasar falsafah / hakekat dari ajaran hindu Bali adalah tri hita karana, yang berasal dari kata tiga penyebab terciptanya kebahagiaan manusia. Terciptanya kebahagiaan manusia ini adalah adanya hubungan yang selaras antara manusia dengan tuhan, manusia dengan alam, serta sesama manusia.

Bagi pohon pohon yang besar seperti beringin termasuk dalam kriteria hubungan manusia dengan alam, dimana fungsi pohon adalah sebagai penyaring udara dengan menghasilkan oksigen, sebagai penyedia makanan bagi hewan herbivora, menjaga kesuburan tanah, serta menahan laju air dan erosi, dan menjadikan lingkungan lebih nyaman.

Sedangkan kain hitam putih(poleng) dalam budaya bali merupakan symbol/expresi dari penghayaran Rwa Bhineda suatu konsep keseimbangan baik dan buruk.

Apabila kembali ke pertanyaan kenapa pohon besar diselimuti kain hitan putih dan di beri sesajen, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa hal tersebut adalah bentuk penghormatan manusia kepada alam sekitar dengan memperhatikan dampak baik buruknya perlakuan manusia terhadap alam dengan symbol pepohonan tersebut. Apabila alam dihancurkan dengan penebangan liar, akan mengakibatkan banjir, polusi, dan kepunahan berbagai habitat didalamnya, dan akan berdampak juga terhadap manusia itu sendiri, sehingga keseimbangan ini harus dijaga dengan bentuk penghormatan, serta diberikan symbol kain hitam putih pada pohon, dan juga pada benda benda tertentu.

Demikianlah konsep dari tri hita karana yang selalu di agung agungkan masyarakat Bali dalam menghadapi perkembangan globalisasi.

Mungkin saja dahulu masyarakat Bali menggampangkan jawaban dengan megatakan ada penunggunya, dan tenget (angker) dengan tujuan agar manusia tidak merusak/menebang pohon, sehingga kelestarian alam dapat terpelihara.

Sekian ulasan dari penulis, semoga bermanfaat bagi rekan blogger,,

 

salam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s